
Editor: Dini Sukma Haryana, S.Pd.
Salah satu materi mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah menulis puisi. Berikut adalah beberapa puisi terbaik karya kelas X-2.
Peluru Sunyi di Trotoar Kota
Karya: Kharisa Naura Ayumi Batubara
Ibu…
Jika kau dengar ini, mungkin aku sudah bukan lagi anakmu yang memperlihatkan senyuman – senyuman hangat itu lagi.
Aku kini hanya sisa sisa helaan napas yang tertinggal di antara debu jalan
Dan bau mesiu yang menusuk malam.
Trotoar ini dingin sekali.
Batu-batunya seperti tangan kematian yang menggendongku perlahan.
Darahku mengalir di sela-selanya,
Mencari jalan pulang yang akhirnya tak pernah ku temukan.
Tanah ini juga haus, Ibu… haus darah anaknya sendiri.
Langkah-langkah tentara menjauh.
Tapi detak jantungku juga ikut menjauh dariku, kesadaran ku seperti dibawanya pergi entah kemana.
Aku mendengar seseorang menangis sesegukan—mungkin itu kau.
Atau mungkin itu bumi yang ikut berduka.
Jika fajar tiba, dan jika jasadku kau temui.
Jangan hapus darah di bajuku, Ibu.
Biarkan ia jadi tanda, bahwa anakmu pernah melawan, pernah menentang, pernah berkorban.
Meski hanya dengan selembar kertas dan dada terbuka.
Ibu…
Kemerdekaan akan lahir,
Meski harus melewati seribu peluru sunyi lagi.
Cahaya di Dalam Kegelapan
Karya: Fathia Amelia
Di langit yang sangat gelap
Adanya bintang-bintang yang indah
Bintang-bintang bersinar seperti cahaya
Walaupun malam menghilangkan cahaya itu
Bintang-bintang itu akan tetap selalu bersinar
Aku bagaikan langit malam yang panjang
Dan kau adalah cahaya bintang yang selalu bersinar di malam hari
Setiap malam kau selalu ada di langit-langit yang gelap
Cahaya yang selalu bersinar di langit malam
Cahaya yang sangat indah di malam hari
Cahaya itu selalu menerangi indahnya malam
Ia selalu menerangi langit malam
Bintang-bintang indah itu adalah cahaya yang indah
Ia selalu mengikuti langit langit
Walau ia juga selalu menghilang karena langit malam melahapnya
Cahaya bintang itu bersinar layaknya bulan
Langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang itu terlihat sangat indah
Pelangi di Matamu
Karya: Angelia Rosari Tarihoran
Hujan reda meninggalkan aroma manis
langit tersenyum dengan warna-warna
kau berdiri di bawah cahaya lembut
membawa hangat di tengah basah bumi.
Matamu menyimpan lengkung pelangi
dengan rahasia yang tak habis dibaca
setiap tatapannya menenangkan badai
dan menumbuhkan bunga di dadaku.
Waktu berjalan tapi tak menghapus
lukisanmu di kanvas ingatanku
meski langit berubah jadi kelabu
pelangi itu tetap tinggal di mataku.
Di Bangku Tua Depan Rumah
Karya: Erfando Sihaloho
Di bangku tua ku duduk sendiri
Mengingat senyummu yang takkan kembali
Angin sore membawa kenangan pergi
Namun rinduku tetap disini
Kakek,suaramu masih terngiang ditelinga
Menuntun hatiku di kala bahagia
Kini hanya sunyi yang menjadi teman setia
Menunggu sapa yang takkan tiba
Senja di Pantai
Karya: M. Arsyad Ataullah Fayyadh
Senja di pantai, langit merah jingga
Ombak bergemuruh, pasir putih lembut
Aku berdiri, merasakan angin laut
Membawa aroma garam dan kehidupan
Matahari terbenam, cahaya emas
Menyinari ombak, menciptakan ilusi
Aku merasa damai, jiwa yang tenang
Dalam keindahan alam, aku menemukan diri.
Motivasi Penyemangat
Karya: Davin Cahyadi Tarigan
Jangan takut jatuh dan terluka
Langkah besar di mulai dari yang biasa
Hari ini mungkin penuh rintangan
Tapi esok cerah penuh harapan
Teruslah berjalan jangan lah menyerah
Walau lelah, tetaplah melangkah
Impian besar menunggu di sana
Untuk hari yang tak pernah putus asa
Kesadaran Untuk Masa Depan
Karya: Noname
Pelan pelan ku berjalan.
Langkah demi langkah.
Tak pernah ku berhenti.
Walau kadang selalu ada tembok yang menghalangiku.
Aku merasa bahwa hidup ini.
Kadang kita di atas dan kadang juga kita di bawah.
Mulai langkah kecil sedang berjalan.
Banyak tantangan yang harus dilewati.
Memang awalnya itu pahit.
Kemanisan lah yang menunggu di masa depan.
SEMANGAT, PANTANG MENYERAH.
Memang itulah yang di cari.
Kau selalu memikirkan orang lain.
Kau selalu memberi tau orang lain.
Hingga akhirnya engkau entah seperti apa.
Wahai anak muda sadarlah kau.
Ingatlah bagaimana perjuangan Indonesia.
Berhasil itu karena perjuangan.
Jadi apa lagi yang kau pikirkan kan.
Mulai kebiasaan hebat,maka engkau akan menjadi emas.
Bisikan Alam
Karya: Elginta Saputra Ginting
Dibawah langit biru yang indah
Awan menari-nari di iringi dengan angin lembut
Daun yang berisik pada ranting kecil
Menyampaikan cerita yang tak pernah diinginkan.
Sungai mengalir dengan tenang
Dan cahaya memberi dengan cahayanya
Bukit yang berdiri tinggi dan menjulang
Menjaga rahasnya dunia di dalamnya.
Alam mengejar tanpa suara
Tentang sabar, tentang setia dan caranya berpikir
Dan aku duduk di tengahnya
Mencatat keindahan yg tak terlupakan.
Wanita yang Tak Tunduk
Karya: Wulan Nabila
Ia berjalan tanpa menunduk,
Memandang lurus ke depan
Seakan jalan berliku hanyalah garis kecil yang bisa ia lewati
Wanita bukan sekadar bunga di taman
Ia adalah akar yang mencengkeram bumi dan badai yang tak memilih waktu
Kata-katanya tajam namun bijak
Mengiris ego yang sombong
Membangun jiwa yang rapuh
Ia tahu, dunia kadang mencoba membungkam
Namun ia tak pernah menyerahkan suaranya
Karena ia mengerti, harga dirinya adalah mahkota yang tidak untuk ditawar
Wanita berdiri bukan di bawah bayang-bayang siapa pun
Melainkan di bawah cahaya yang ia nyalakan sendiri.
